Di banyak waktu, mungkin aku terlalu keras. Aku tidak memahami bunga yang sedang mekar, begitu juga mereka yang sedang bertumbuh setelah bertunas. Aku hanya memandangnya terlalu indah, sehingga aku takut. aku takut mereka terluka ketika tumbuh menjadi dewasa. Aku takut mereka akan dipetik dan dihancurkan ketika mereka sudah mekar. Aku takut jika mereka terlalu indah dan menerima keindahan maka mereka akan kecewa.
Strategi untuk tidak kehilangan adalah dengan tetap berada pada batas-batas diri.
Seni untuk tidak menjadi buruk adalah dengan menjadi lebih baik.
Proses untuk tetap indah adalah dengan menolak tangan-tangan yang mengusik.
Tetapi,
Tatkala aku menjadi begitu tegas untuk berdiri pada prinsip, maka saat itulah aku tahu. Bahwa menjadi indah bukanlah hal yang perlu ditakuti.
Tatkala hujan memberi waktu kepada mereka yang menanti, maka saat itulah aku tahu. Bahwa tidak semua yang hancur akan berhenti lalu mati.
Dengan begitu juga aku tahu, bahwa tidak semua tangan yang datang akan merusak dan memberi kelabu.
Namun, di banyak tapi aku masih ragu. Andai mereka memahami, dan mungkin tidak, atau aku yang memang keras kepala. Mungkin, aku yang memang berkepala batu. Sehingga jangankan mengerti, mendengar pun aku tak mau.
Sekali lagi, di banyak tapi. Mungkin tangan-tangan itu ada, yang datang tidak hanya bersenang-senang, yang datang tidak hanya untuk bersedih, yang datang tidak hanya ketika terluka, yang datang tidak hanya saat kecewa, yang datang tidak hanya saat mendung.
Dan sekali lagi, di banyak tapi. Mungkin itu ada. Yang memberi tangan bukan karena singgah, Tetapi karena kasih dan ingin hidup bersama dalam abad-abad menuju ada serta setelah ketiadaan.
Mungkin. Semoga.
10-03-2026
Surabaya