Sabtu, 18 Oktober 2025

18 Oktober 2025

Terkadang, diri hanya butuh sembuh untuk hidup. 

Terkadang, tubuh perlu jatuh untuk kembali rapuh.

Terkadang, jiwa butuh sepi untuk mampu merenung, kenapa sampai saat ini tubuh masih memberi izin untuk tetap mengabdi.

Diantara anak-anak senja. Di dalam pelukan kapas-kapas awan. Di jarak antar bintang-bintang. Di sekitaran induk-induk sungai. Dan di tiap pohon-pohon rindang, aku menemukan kejernihan. Aku menemukan jawaban. Aku menemukan kesadaran.

Kenapa diri harus sembuh.

Kenapa tubuh harus jatuh.

Kenapa tubuh butuh rapuh.

Kenapa jiwa meminta sepi.

Dan kenapa ia masih memberi izin untuk tetap mengabdi.

Ia siapa? Diriku.

Mengabdi pada siapa? 

Pada gunung-gunung yang menjaga bumi. Pada langit yang meneduhkan naluri. Pada kebiruan yang mendominasi. Pada jiwa-jiwa yang terkadang berjalan dan berlari. Kemudian pada nafas-nafas ambigu yang memberi arti.

Lalu? Untuk apa?

Untuk manusia mampu menyadari, bahwa jatuh dan rapuh adalah cara paling serius untuk tumbuh.



18 - 10 - 2025

Surabaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selajur Mentari

Selanjur Mentari tengah menerpa keabsahan nadiku. Dalam dimensi waktu yang dungu. yang tidak bertepi. yang bergerak maju.          Selajur m...