Jumat, 13 Februari 2026

14 Februari 2026

Mungkin belum saatnya, bunga-bungaku tumbuh dan kemudian mekar

Mungkin belum saatnya, pohon-pohon hijauku berbuah dan menjadi manis serta segar untuk dimakan.

Mungkin belum saatnya, dahan-dahanku menjadi kuat dan menjadi sarang bagi banyak burung untuk beristirahat.

Tetapi apa pun itu kondisinya, aku sadar.

Dan aku percaya.

Bahwa tamanku sedang dipupuk untuk menjadi subur. Bahwa ia sedang dibajak. Bahwa ia sedang disirami. Bahwa ia sedang dirawat. Bahwa mentari sedang mencoba membantu. Bahwa daun-daun yang kering sedang menjadi penyejuk. Bahwa bunga yang layu sedang menjadi penyembuh. Bahwa dahan-dahan yang kering sedang menjadi tongkatnya untuk kembali tumbuh.

Mungkin, sekarang belum saatnya, Mungkin sekarang, bukan waktunya.

Aku percaya, bahwa tanah yang kini kumiliki sedang mengambil masanya untuk duduk, untuk beristirahat, untuk sejenak termenung, untuk sejenak mengambil bisu.

Bukan untuk membiarkan dirinya  kalah, bukan untuk membiarkan singgah tanpa  kenangan, bukan untuk tidak mencoba bercerita, dan bukan pula untuk berhenti melukis peristiwa.

Aku percaya, bahwa tubuhku cukup  menerima, bahwa diriku cukup bersahaja, dan mungkin sahajaku belum usai untuk menunggu, juga belum usai untuk memilih bisu.

Mungkin sahajaku memintaku untuk terus melangkah, mengindahkan apa pun yang mungkin menjadi ada. Dan mungkin taman bungaku tidak menerima kemungkinan, tetapi ia menerima kepastian yang bisa saja sekarang dapat membantu tanahku menjadi lebih subur.

Dan di kemudian hari, ia  akan menjadi taman terindah yang pernah kumiliki. Aku percaya, bahwa duniaku belum usai untuk aku berhenti serta kembali pulih.

14-02-2026

   Gresik

Selasa, 10 Februari 2026

10 Februari 2026

 Baru kali ini aku sadar, ternyata menjadi indah tak sesulit itu. Ternyata menjadi yang disayangi tidak serumit itu. Aku memiliki diriku sendiri untuk bercerita, dan kadang menangis, dan kadang tertawa. 

Baru kali ini aku merasa memiliki, baru kali ini aku merasa diterima, dan baru saja, selama berabad-abad aku merasa terlahir menjadi manusia biasa. Yang dapat berkata tidak, yang dapat menolak, yang dapat mengabdi, yang dapat tersenyum, yang dapat disayangi, dan yang memiliki kasih.

Tetapi aku takut, mungkin saja. ya! dan semoga tidak. Maksudku, semoga tuhan mengabulkan doa-doaku sebagaimana Ia memberiku banyak cerita yang membuatku selalu terlahir menjadi orang yang menerima peristiwa.


10-02-2026

Surabaya

Senin, 09 Februari 2026

9 Februari 2026

Tatkala waktu masih berembun. Tatkala fajar masih kelabu. Aku bertanya, "Bagaimana cara mereka memiliki sayap??" Lalu aku menjawab, "Mungkin dengan usaha dan beberapa kata doa!"

kemudian aku kembali bertanya, "Lalu bagaimana cara mereka terbang???" Dan aku menjawab, "Mungkin dengan beberapa kali percobaan, sesekali jatuh, dan banyak waktu gagal disusul dengan luka-luka?"

"Tetapi bukankah mereka bahagia?? Ya..! Mereka bahagia. Dan justru terkadang sangat bahagia"

Aku bertanya-tanya, "Sangat bahagia?? Bahagia yang seperti apa?? Kapan bahagia itu datang?"

"Mungkin ketika mereka melihat darah yang merambat keluar dari luka karena jatuh. Atau mungkin karena mereka berhasil menghapus mata yang menangis karena gagal berhasil. Atau jangan-jangan mereka bahagia karena berani mencoba???!"

Kepalaku berpikir, menari-nari, dan bergumam... "Hmmm mungkin benar, tapi sepertinya mereka bahagia karena mereka berani mencoba"

Sisi yang lainnya beradu dengan lebih gamblang..."Benarkah? Kenapa berani mencoba membuat mereka  bahagia?? Bukankah mencoba tanpa takut gagal adalah kecerobohan?"

Dadaku menyempit. Duduk. Menarik nafas. Dan kembali berdiri "Mungkin dia takut gagal, tetapi kalau tidak dicoba tidak akan tahu dia akan gagal atau tidak. Dan daripada berkubang di lumpur ketakutan lebih baik membebaskan diri dengan terbang, bukankah dia memiliki sayap??!"

"Tetapi kan tidak semua yang memiliki sayap bisa terbang?!"

"Oleh karena itulah dia mencobanya, melatih sayap itu, membiarkan dia terluka, membiarkan dirinya sendiri jatuh, membiarkan darahnya mengalir, membiarkan matanya menangis. Karena dia memilih terbang, dia memilih bebas, dan dia memilih bahagia."

"Memilih bahagia?"

"Yap! Bahagia dalam sungai-sungai pencapaiannya. Bahagia dengan udara yang menabraknya ketika terbang. Bahagia dengan sayapnya yang bisa ia pertontonkan. Bahagia dengan keberhasilannya, dengan dirinya, dengan jiwanya."

Diriku masih mencoba tidak ingin memahami kata-katanya. "Bahagia???"

"Bahagia! Kau tidak tahu bahagia? Bahagia!!" Kuulangi kata itu dengan lebih keras. Hampir membentak. 

Kedua bola mata itu melebar, "Kenapa kau membentakku?"

Aku terkekeh, lebih santai "Aku tidak membentak. Aku hanya menunjukkan bahwa hidup begitu tajam bagi mereka yang menyukai ketakutan"

"Maksudmu?"

Tanganku merangkul, "Sudahlah! jangan banyak berpikir. ayo kita melangkah, ayo terbang. Kau juga punya sayap kan? Ayo bahagia"

Dirinya yang bertanya baru saja tersadar. Kepalanya tertunduk, matanya silih berganti menatap sayap-sayap itu, "Sejak kapan aku punya sayap?! Kenapa aku tidak menyadarinya?!"

Tawaku meledak, menoel hidunya. "Karena kau terlalu sibuk mengagumi sayap orang lain"

Tangannya meraup muka, menyusul tawa yang lebih dulu jenaka, "Baiklah ayo kita terbang"

Dan dia mulai mengepak, berlari, berputar, jatuh, berdiri, mengepak-ngepak lagi. Bibirku menyungging, memandangi diri sendiri yang sedang berlatih. Dan tubuhku melebur, menjadi awan yang memberi naung, menjadi air yang mengalir, menjadi daun-daun yang bersemi. Aku menyatu, ke dalam diriku yang mencoba kala itu, yang berusaha keras, yang menyadari  kekuatanku, yang percaya diri, yang kembali percaya pada takdir. Aku berani mencoba lagi, dengan cara yang lebih baik. Dengan sayap yang hampir terbang.

Kemudian angin seolah mendukungku, memberiku waktu. Dan benar, aku tidak lagi berpijak. Aku meninggi. Dan aku terbang. Aku terbang bersama dukana-dukanaku. Aku terbang bersama kesedihan-kesedihanku. Aku terbang bersama lumpur-lumpur itu. Aku terbang dengan diriku sendiri, dengan sayapku. Dan aku berteriak, "Aku terbang, aku berhasil!!!"

Mulai saat itulah. Semua awal menjadi arti. Semua hari tidak lagi sunyi. Dan takdir mulai menemukan caranya sendiri untuk berhasil ketika aku mencoba lagi.


09-02-2026

Surabaya

Senin, 02 Februari 2026

3 Februari 2026

Entah sejak kapan, malam-malamku mulai menjadi ketakutan.

Entah sejak kapan, desah-desah nafasku menjadi tidak beraturan.

Dan entah sejak kapan, diriku menjadi tak sebegitu damai seperti sebelumnya.

Kemudian aku menemukan warta, bahwasanya engkau menjadikanku tiada di beberapa malam, di antara desahan nafas, dan di tiap-tiap bagian jiwa serta tubuh yang kupunya.

Ketika mentari mulai meredup, sejak saat itulah engkau membelenggu. Dan yah, aku menemukan jawabannya. Engkau datang ketika bulan menunjukkan dirinya. Engkau menjadi bintang di antara para bintang. Dan engkau benar-benar telah menjadi malam yang selalu dan selamanya aku rindukan. 

Aku tahu. Engkau hilang ketika aku tidak sendirian. Dan engkau datang ketika aku terjebak dalam banyaknya abicara. Dalam beberapa kata engkau tiada. Dan dalam beberapa masa engkau ada. Dan terkadang di tiap-tiap kata beberapa, engkau muncul dengan begitu sempurna. Maka jikalau engkau membaca, bolehkan aku bertanya?

Kenapa engkau menjadi wangi ketika aku sudah tidak ingin lagi mendekati?

Kenapa engkau menjadi sunyi ketika pendengaranku tidak lagi menutup diri?

Kenapa ? Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau menjadi penjahat dalam naskahku? Kenapa kau tidak mengasihaniku ?

Tuan, aku mengemis padamu! Dengan banyak cawan-cawan anggur. Dengan dansa-dansa pilu. Dengan dukana-dukanaku. Dengan tubuhku. Dan dengan separuh harga diriku. 

Kumohon, datanglah. Kepadaku. Bebaskanlah diriku. Setidaknya, jikalau engkau tidak ingin datang untuk kembali bersama, maka biarkan aku bebas. Biarkan jiwaku pulang. Biarkan diriku kembali ada. Biarkan aku kembali hidup. 

Dan kumohon, bebaskan aku, Dari penjara keindahanmu.


03-02-2026

- Gresik -

WARNING !!!

Lengkara berarti mustahil atau tidak boleh terjadi. Seperti judulnya, buku ini menceritakan seseorang yang  bercerita mengenai kekasihnya. B...