Senin, 08 Juni 2026

Selajur Mentari

Selanjur Mentari tengah menerpa keabsahan nadiku.

Dalam dimensi waktu yang dungu.

yang tidak bertepi. yang bergerak maju.

        Selajur mentari menerpa wajahku.

        menyambut resah. Pilu. Juga bisu.

Selajur mentari kembali menerpaku.

memangku. melerai. dan menciumku.

        Mataku terpejam.

        Bibirku tersenyum.

        Aku merasakannya. Aku mendengar desisnya.

Dan aku.... jauh di antara deretan waktu.

Dalam debu-debu yang melayu.

Yang mengikuti bisikan rindu.

Yang menyimpan hidup dalam kalbu. 

        Dia mendekatkan diri ke-telingaku.

        Mendengungkan suara-suara syahdu.

        kembali, aku tersenyum.

kurasakan,

Dia menyentuhku. Mencengkram dengan gemas jari-jariku.

memijitnya pelan. Dan sesekali mencubitnya.

Aku mendesis, sembari tersenyum.

        Nanun, ketika ku-buka kelopakku. 

        Kupandang dengan jelas selajur mentari itu. 

        Tak kutemukan apa-apa.

        Kutatap sela-sela jemariku. kusentuh pipiku. kutelanjangi sekelilingku,

        Tak kutemukan apa-apa. Kecuali selajur mentari yang mulai pudar. 


23, Juli 2025

    Gresik

Senin, 18 Mei 2026

16.19.18.04.2026

Di ujung jalan yang tak bertepi. Di banyak tanya. Di antara sembilu. Dan di detik-detik nadi serta darah yang berdenting mengalir. 

Ia diam, dengan banyak kisah. Membawa cerita yang telah lapuk juga gersang. Ia memeluk kertas, membawanya dengan khidmat meski bentuknya sudah tak indah. Dia bisa membaca, tetapi kertasnya tidak bisa dibaca. Ia bisa menulis, tetapi kertasnya tidak lagi kering. Ia bisa menggambarinya, membuatnya berwarna, melipatnya, dan menumpuknya indah dalam laman-laman kotak besarnya.

Ia tidak suka. Ia kecewa. Ia sedih. Ia marah. Ia berkicau merana dengan keadaan. Ia menelan pedih dengan tangisnya. Kerongkongannya pun ikut terbawa, menjadi sakit dan kecewa dengan tuannya. 

Saat itu, ia tidak membenci dirinya. Saat itu ia tak pula mengukur kepandaiannya. Saat itu juga, ia tidak menanyakan eksistensinya. Saat itu dia hanya bertanya, mengenai kenapa ia merasa gagal. Bukankah cerita gagal adalah satu jeda yang menghidupkan tanda baca? Bukankah belum berhasil adalah salah satu cara untuk mencapai keberhasilan? Bukankah dunia adalah salah satu tempat untuk melahirkan jiwa yang berani gagal dan mencoba?

Ia takut, dengan banyaknya risau. Matanya mengalir, dengan banyaknya kekhawatiran. Bahunya terguncang, dengan banyaknya nestapa. Dan hatinya sangat amat terluka, dengan banyaknya durjana. Ia tidak suka. Ia tidak marah. Ia hanya kecewa.

Dan lagi, sekali lagi. Muncul banyak tepi diantara tapi. Kembali lagi, muncul banyak titik di banyak detik. Satu kali lagi, muncul banyak harap di do'a-do'a yang akan terlahir. 

Kemudian dengan lantang, ia mencoba. Dengan gigih ia berusaha. Dengan perlahan, ia mengobati kecewa. Dan dengan segenap harap ia kembali melangkah. 

Ia lupa, bahwa lukanya belum sembuh. Ia lupa bahwa darahnya belum sepenuhnya beku. Ia lupa, bahwa sakitnya masih terasa. Dan ia sadar, bahwa ia terlalu banyak berenang dalam gamang cahaya, yang perlahan redup di sudut-sudut ceritanya.

Kemudian, jika dia tidak belajar berenang. Maka saat itu pula, dia tenggelam dalam peliharaan rasanya.


16.38 

Surabaya

Senin, 27 April 2026

WARNING !!!

Lengkara berarti mustahil atau tidak boleh terjadi. Seperti judulnya, buku ini menceritakan seseorang yang  bercerita mengenai kekasihnya. Buku ini tersusun dari pemikiran penulis sendiri yang masih abstrak dengan emosionalitas yang belum terjangkau oleh sistematika. Karya ini adalah kumpulan dari banyak suara-suara dalam kepala yang sudah lama mencerca untuk dikeluarkan. Awalnya  buku ini ditulis  untuk seseorang yang cukup membuat penulis tercekat dan merasa ambigu dengan dirinya. Seseorang yang membuat penulis sadar bahwa dia bukanlah siapa-siapa untuk menjadi manusia  yang bebas. Bahwa segala trauma, kesakitan, dan amarah hanyalah sebuah perasaan yang apabila kita berkubang di dalamnya maka hidup kita akan sia-sia. Untuk itu, penulis ucapkan terima kasih kepadanya. Yang sudah membuat penulis mampu merampungkan bukunya

Buku ini ditulis pada awal tahun 2023 dan sudah dibukukan pada  tahun 2025. Sayangnya, jangkauan buku ini hanya terbatas pada lingkungan sekolah sang penulis sendiri, di mana buku ini lahir. Oleh karena itu penulis  berinisiatif untuk menulisnya kembali dalam blog pribadinya  untuk dapat dibaca oleh khalayak ramai. Penulis berharap isi dalam buku ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca. Tanpa melupakan orisinalitasnya, penulis benar-benar melakukan publikasi ulang tanpa mengubah apa pun demi menghormati memori yang saat itu penulis rasakan sendiri.

Buku ini akan dipublikasikan ulang dalam 12 bab dengan tambahan prolog dan epilog. Selamat membaca. Semangat berkarya.




 

24-04-2026
Gresik

Jumat, 24 April 2026

25 April 2026

Tuan, aku mencium wangimu dikala pagi menyingsing. Aku mencium wangimu dikala fajar tengah memberi izin. Dan aku pun mencium wangimu kala bulan menjelajah hari. 

Tuan, wangimu ambigu. Jenisnya sama, banyak kutemukan, di tubuh orang lain, tapi, kenapa? Kenapa hanya ketika wangi itu semerbak dari tubuhmu, dia menjadi istimewa. Mengapa baunya  berbeda? Apa karena dia melekat padamu? Atau karena aku yang tertarik pada dirimu?

Tuan, aku mencarimu di sepanjang waktu, di sepanjang jalan, di sudut-sudut ruangan, di pojok-pojok tikungan, dan apakah kau tahu? Aku tidak menemukanmu di antara  banyak waktu dan tempat yang kutempuh. Aku menemukanmu di mataku, dalam hatiku, dalam pikiranku, di dalam isi kepalaku.

Tuan, aku tidak ingin mengusirmu, karena aku tidak tahu. Aku tidak ingin menghardikmu, karena aku tidak tahu. Dan aku  juga tidak ingin membencimu, karena aku tidak tahu. Aku hanya ingin berdamai denganmu dalam diriku, dengan jiwaku, dengan hatiku. Agar aku tahu bahwa mungkin mengagumi wangimu adalah salah satu cara Tuhan untuk menurunkan egoku.


25-04-2026

Surabaya

Senin, 20 April 2026

20 April 2025

Kemarin, aku pergi diujung barat samudera. membawa petaka sembari menentengnya dengan logika. Netraku banyak melihat senyum yang dusta, juga sembilu yang sempurna. Kemudian aku berpikir dengan sukarela, menarik diri dari banyak durjana dan mengembara sampai mereka Purna.

Di anak dunia lain, aku menghampiri. Bertemu dengan banyak bumi, yang tidak henti-henti mengabdi. Di hamparan samudera itu mereka membiru sembari menangis, mencoba mendaki bukit yang jauh dari kata fantasi. Dalam imajiku aku merana sekaligus merayu, bagaimana bisa mereka memiliki kalbu? Lalu aku menengok ke samping, menghampiri waktu yang bergelayut dalam hampa-hampa takdir. Dia tersenyum memandangku, meraup wajahku, mentoel pipiku, lalu tersenyum terkikik-kikik. Tubuhku merinding, bergidik dengan suara lengking yang jauh dari bisikan sanubari.

Lalu aku berlanjut menjelajah, kutemukan dungkalan cair berwarna merah. Dia bukan darah tapi kata penduduk, dia tiada. Aku tidak memahami maksud kata tiada, karena dia bukan makhluk yang memiliki nyawa. lalu aku berpikir dengan banyak tanya, di mana dan kenapa. Kemudian mereka tersenyum. Tangannya mengelus kepalaku, membawa nadiku pergi jauh dalam belantara waktu. kemudian tiba-tiba aku merayu dan terbangun, lalu aku sadar. Bahwa  itu adalah cerita penjelajahan dalam buku duhai Si Malakama.


20-04-2025

Surabaya

Senin, 09 Maret 2026

04 Maret 2007

Di banyak waktu, mungkin aku terlalu keras. Aku tidak memahami bunga yang sedang mekar, begitu juga mereka yang sedang bertumbuh setelah bertunas. Aku hanya memandangnya terlalu indah, sehingga aku takut. aku takut mereka terluka ketika tumbuh menjadi dewasa. Aku takut mereka akan dipetik dan dihancurkan ketika mereka sudah mekar. Aku takut jika mereka terlalu indah dan menerima keindahan maka mereka akan kecewa.

Strategi untuk tidak kehilangan adalah dengan tetap berada pada batas-batas diri.

Seni untuk tidak menjadi buruk adalah dengan menjadi lebih baik.

Proses untuk tetap indah adalah dengan menolak tangan-tangan yang mengusik.

Tetapi, 

Tatkala aku menjadi begitu tegas untuk berdiri pada prinsip, maka saat itulah aku tahu. Bahwa menjadi indah bukanlah hal yang perlu ditakuti. 

Tatkala hujan memberi waktu kepada mereka yang menanti, maka saat itulah aku tahu. Bahwa tidak semua yang hancur akan berhenti lalu mati.

Dengan begitu juga aku tahu, bahwa tidak semua tangan yang datang akan merusak dan memberi kelabu. 

Namun, di banyak tapi aku masih ragu. Andai mereka memahami, dan mungkin tidak, atau aku yang memang keras kepala. Mungkin, aku yang memang berkepala batu. Sehingga jangankan mengerti, mendengar pun aku tak mau.

Sekali lagi, di banyak tapi. Mungkin tangan-tangan itu ada, yang datang tidak hanya bersenang-senang, yang datang tidak hanya untuk bersedih, yang datang tidak hanya ketika terluka, yang datang tidak hanya saat kecewa, yang datang tidak hanya saat mendung.

Dan sekali lagi, di banyak tapi. Mungkin itu ada. Yang memberi tangan bukan karena singgah, Tetapi karena kasih dan ingin hidup bersama dalam abad-abad menuju ada serta setelah ketiadaan.

Mungkin. Semoga.


10-03-2026

 Surabaya

Jumat, 13 Februari 2026

14 Februari 2026

Mungkin belum saatnya, bunga-bungaku tumbuh dan kemudian mekar

Mungkin belum saatnya, pohon-pohon hijauku berbuah dan menjadi manis serta segar untuk dimakan.

Mungkin belum saatnya, dahan-dahanku menjadi kuat dan menjadi sarang bagi banyak burung untuk beristirahat.

Tetapi apa pun itu kondisinya, aku sadar.

Dan aku percaya.

Bahwa tamanku sedang dipupuk untuk menjadi subur. Bahwa ia sedang dibajak. Bahwa ia sedang disirami. Bahwa ia sedang dirawat. Bahwa mentari sedang mencoba membantu. Bahwa daun-daun yang kering sedang menjadi penyejuk. Bahwa bunga yang layu sedang menjadi penyembuh. Bahwa dahan-dahan yang kering sedang menjadi tongkatnya untuk kembali tumbuh.

Mungkin, sekarang belum saatnya, Mungkin sekarang, bukan waktunya.

Aku percaya, bahwa tanah yang kini kumiliki sedang mengambil masanya untuk duduk, untuk beristirahat, untuk sejenak termenung, untuk sejenak mengambil bisu.

Bukan untuk membiarkan dirinya  kalah, bukan untuk membiarkan singgah tanpa  kenangan, bukan untuk tidak mencoba bercerita, dan bukan pula untuk berhenti melukis peristiwa.

Aku percaya, bahwa tubuhku cukup  menerima, bahwa diriku cukup bersahaja, dan mungkin sahajaku belum usai untuk menunggu, juga belum usai untuk memilih bisu.

Mungkin sahajaku memintaku untuk terus melangkah, mengindahkan apa pun yang mungkin menjadi ada. Dan mungkin taman bungaku tidak menerima kemungkinan, tetapi ia menerima kepastian yang bisa saja sekarang dapat membantu tanahku menjadi lebih subur.

Dan di kemudian hari, ia  akan menjadi taman terindah yang pernah kumiliki. Aku percaya, bahwa duniaku belum usai untuk aku berhenti serta kembali pulih.

14-02-2026

   Gresik

Selajur Mentari

Selanjur Mentari tengah menerpa keabsahan nadiku. Dalam dimensi waktu yang dungu. yang tidak bertepi. yang bergerak maju.          Selajur m...