WandaHamida's diary
Senin, 27 April 2026
WARNING !!!
Jumat, 24 April 2026
25 April 2026
Tuan, aku mencium wangimu dikala pagi menyingsing. Aku mencium wangimu dikala fajar tengah memberi izin. Dan aku pun mencium wangimu kala bulan menjelajah hari.
Tuan, wangimu ambigu. Jenisnya sama, banyak kutemukan, di tubuh orang lain, tapi, kenapa? Kenapa hanya ketika wangi itu semerbak dari tubuhmu, dia menjadi istimewa. Mengapa baunya berbeda? Apa karena dia melekat padamu? Atau karena aku yang tertarik pada dirimu?
Tuan, aku mencarimu di sepanjang waktu, di sepanjang jalan, di sudut-sudut ruangan, di pojok-pojok tikungan, dan apakah kau tahu? Aku tidak menemukanmu di antara banyak waktu dan tempat yang kutempuh. Aku menemukanmu di mataku, dalam hatiku, dalam pikiranku, di dalam isi kepalaku.
Tuan, aku tidak ingin mengusirmu, karena aku tidak tahu. Aku tidak ingin menghardikmu, karena aku tidak tahu. Dan aku juga tidak ingin membencimu, karena aku tidak tahu. Aku hanya ingin berdamai denganmu dalam diriku, dengan jiwaku, dengan hatiku. Agar aku tahu bahwa mungkin mengagumi wangimu adalah salah satu cara Tuhan untuk menurunkan egoku.
25-04-2026
Surabaya
Senin, 20 April 2026
20 April 2025
Senin, 09 Maret 2026
04 Maret 2007
Di banyak waktu, mungkin aku terlalu keras. Aku tidak memahami bunga yang sedang mekar, begitu juga mereka yang sedang bertumbuh setelah bertunas. Aku hanya memandangnya terlalu indah, sehingga aku takut. aku takut mereka terluka ketika tumbuh menjadi dewasa. Aku takut mereka akan dipetik dan dihancurkan ketika mereka sudah mekar. Aku takut jika mereka terlalu indah dan menerima keindahan maka mereka akan kecewa.
Strategi untuk tidak kehilangan adalah dengan tetap berada pada batas-batas diri.
Seni untuk tidak menjadi buruk adalah dengan menjadi lebih baik.
Proses untuk tetap indah adalah dengan menolak tangan-tangan yang mengusik.
Tetapi,
Tatkala aku menjadi begitu tegas untuk berdiri pada prinsip, maka saat itulah aku tahu. Bahwa menjadi indah bukanlah hal yang perlu ditakuti.
Tatkala hujan memberi waktu kepada mereka yang menanti, maka saat itulah aku tahu. Bahwa tidak semua yang hancur akan berhenti lalu mati.
Dengan begitu juga aku tahu, bahwa tidak semua tangan yang datang akan merusak dan memberi kelabu.
Namun, di banyak tapi aku masih ragu. Andai mereka memahami, dan mungkin tidak, atau aku yang memang keras kepala. Mungkin, aku yang memang berkepala batu. Sehingga jangankan mengerti, mendengar pun aku tak mau.
Sekali lagi, di banyak tapi. Mungkin tangan-tangan itu ada, yang datang tidak hanya bersenang-senang, yang datang tidak hanya untuk bersedih, yang datang tidak hanya ketika terluka, yang datang tidak hanya saat kecewa, yang datang tidak hanya saat mendung.
Dan sekali lagi, di banyak tapi. Mungkin itu ada. Yang memberi tangan bukan karena singgah, Tetapi karena kasih dan ingin hidup bersama dalam abad-abad menuju ada serta setelah ketiadaan.
Mungkin. Semoga.
10-03-2026
Surabaya
Jumat, 13 Februari 2026
14 Februari 2026
Mungkin belum saatnya, bunga-bungaku tumbuh dan kemudian mekar
Mungkin belum saatnya, pohon-pohon hijauku berbuah dan menjadi manis serta segar untuk dimakan.
Mungkin belum saatnya, dahan-dahanku menjadi kuat dan menjadi sarang bagi banyak burung untuk beristirahat.
Tetapi apa pun itu kondisinya, aku sadar.
Dan aku percaya.
Bahwa tamanku sedang dipupuk untuk menjadi subur. Bahwa ia sedang dibajak. Bahwa ia sedang disirami. Bahwa ia sedang dirawat. Bahwa mentari sedang mencoba membantu. Bahwa daun-daun yang kering sedang menjadi penyejuk. Bahwa bunga yang layu sedang menjadi penyembuh. Bahwa dahan-dahan yang kering sedang menjadi tongkatnya untuk kembali tumbuh.
Mungkin, sekarang belum saatnya, Mungkin sekarang, bukan waktunya.
Aku percaya, bahwa tanah yang kini kumiliki sedang mengambil masanya untuk duduk, untuk beristirahat, untuk sejenak termenung, untuk sejenak mengambil bisu.
Bukan untuk membiarkan dirinya kalah, bukan untuk membiarkan singgah tanpa kenangan, bukan untuk tidak mencoba bercerita, dan bukan pula untuk berhenti melukis peristiwa.
Aku percaya, bahwa tubuhku cukup menerima, bahwa diriku cukup bersahaja, dan mungkin sahajaku belum usai untuk menunggu, juga belum usai untuk memilih bisu.
Mungkin sahajaku memintaku untuk terus melangkah, mengindahkan apa pun yang mungkin menjadi ada. Dan mungkin taman bungaku tidak menerima kemungkinan, tetapi ia menerima kepastian yang bisa saja sekarang dapat membantu tanahku menjadi lebih subur.
Dan di kemudian hari, ia akan menjadi taman terindah yang pernah kumiliki. Aku percaya, bahwa duniaku belum usai untuk aku berhenti serta kembali pulih.
14-02-2026
Gresik
Selasa, 10 Februari 2026
10 Februari 2026
Baru kali ini aku sadar, ternyata menjadi indah tak sesulit itu. Ternyata menjadi yang disayangi tidak serumit itu. Aku memiliki diriku sendiri untuk bercerita, dan kadang menangis, dan kadang tertawa.
Baru kali ini aku merasa memiliki, baru kali ini aku merasa diterima, dan baru saja, selama berabad-abad aku merasa terlahir menjadi manusia biasa. Yang dapat berkata tidak, yang dapat menolak, yang dapat mengabdi, yang dapat tersenyum, yang dapat disayangi, dan yang memiliki kasih.
Tetapi aku takut, mungkin saja. ya! dan semoga tidak. Maksudku, semoga tuhan mengabulkan doa-doaku sebagaimana Ia memberiku banyak cerita yang membuatku selalu terlahir menjadi orang yang menerima peristiwa.
10-02-2026
Surabaya
Senin, 09 Februari 2026
9 Februari 2026
Tatkala waktu masih berembun. Tatkala fajar masih kelabu. Aku bertanya, "Bagaimana cara mereka memiliki sayap??" Lalu aku menjawab, "Mungkin dengan usaha dan beberapa kata doa!"
kemudian aku kembali bertanya, "Lalu bagaimana cara mereka terbang???" Dan aku menjawab, "Mungkin dengan beberapa kali percobaan, sesekali jatuh, dan banyak waktu gagal disusul dengan luka-luka?"
"Tetapi bukankah mereka bahagia?? Ya..! Mereka bahagia. Dan justru terkadang sangat bahagia"
Aku bertanya-tanya, "Sangat bahagia?? Bahagia yang seperti apa?? Kapan bahagia itu datang?"
"Mungkin ketika mereka melihat darah yang merambat keluar dari luka karena jatuh. Atau mungkin karena mereka berhasil menghapus mata yang menangis karena gagal berhasil. Atau jangan-jangan mereka bahagia karena berani mencoba???!"
Kepalaku berpikir, menari-nari, dan bergumam... "Hmmm mungkin benar, tapi sepertinya mereka bahagia karena mereka berani mencoba"
Sisi yang lainnya beradu dengan lebih gamblang..."Benarkah? Kenapa berani mencoba membuat mereka bahagia?? Bukankah mencoba tanpa takut gagal adalah kecerobohan?"
Dadaku menyempit. Duduk. Menarik nafas. Dan kembali berdiri "Mungkin dia takut gagal, tetapi kalau tidak dicoba tidak akan tahu dia akan gagal atau tidak. Dan daripada berkubang di lumpur ketakutan lebih baik membebaskan diri dengan terbang, bukankah dia memiliki sayap??!"
"Tetapi kan tidak semua yang memiliki sayap bisa terbang?!"
"Oleh karena itulah dia mencobanya, melatih sayap itu, membiarkan dia terluka, membiarkan dirinya sendiri jatuh, membiarkan darahnya mengalir, membiarkan matanya menangis. Karena dia memilih terbang, dia memilih bebas, dan dia memilih bahagia."
"Memilih bahagia?"
"Yap! Bahagia dalam sungai-sungai pencapaiannya. Bahagia dengan udara yang menabraknya ketika terbang. Bahagia dengan sayapnya yang bisa ia pertontonkan. Bahagia dengan keberhasilannya, dengan dirinya, dengan jiwanya."
Diriku masih mencoba tidak ingin memahami kata-katanya. "Bahagia???"
"Bahagia! Kau tidak tahu bahagia? Bahagia!!" Kuulangi kata itu dengan lebih keras. Hampir membentak.
Kedua bola mata itu melebar, "Kenapa kau membentakku?"
Aku terkekeh, lebih santai "Aku tidak membentak. Aku hanya menunjukkan bahwa hidup begitu tajam bagi mereka yang menyukai ketakutan"
"Maksudmu?"
Tanganku merangkul, "Sudahlah! jangan banyak berpikir. ayo kita melangkah, ayo terbang. Kau juga punya sayap kan? Ayo bahagia"
Dirinya yang bertanya baru saja tersadar. Kepalanya tertunduk, matanya silih berganti menatap sayap-sayap itu, "Sejak kapan aku punya sayap?! Kenapa aku tidak menyadarinya?!"
Tawaku meledak, menoel hidunya. "Karena kau terlalu sibuk mengagumi sayap orang lain"
Tangannya meraup muka, menyusul tawa yang lebih dulu jenaka, "Baiklah ayo kita terbang"
Dan dia mulai mengepak, berlari, berputar, jatuh, berdiri, mengepak-ngepak lagi. Bibirku menyungging, memandangi diri sendiri yang sedang berlatih. Dan tubuhku melebur, menjadi awan yang memberi naung, menjadi air yang mengalir, menjadi daun-daun yang bersemi. Aku menyatu, ke dalam diriku yang mencoba kala itu, yang berusaha keras, yang menyadari kekuatanku, yang percaya diri, yang kembali percaya pada takdir. Aku berani mencoba lagi, dengan cara yang lebih baik. Dengan sayap yang hampir terbang.
Kemudian angin seolah mendukungku, memberiku waktu. Dan benar, aku tidak lagi berpijak. Aku meninggi. Dan aku terbang. Aku terbang bersama dukana-dukanaku. Aku terbang bersama kesedihan-kesedihanku. Aku terbang bersama lumpur-lumpur itu. Aku terbang dengan diriku sendiri, dengan sayapku. Dan aku berteriak, "Aku terbang, aku berhasil!!!"
Mulai saat itulah. Semua awal menjadi arti. Semua hari tidak lagi sunyi. Dan takdir mulai menemukan caranya sendiri untuk berhasil ketika aku mencoba lagi.
09-02-2026
Surabaya
WARNING !!!
Lengkara berarti mustahil atau tidak boleh terjadi. Seperti judulnya, buku ini menceritakan seseorang yang bercerita mengenai kekasihnya. B...
-
Mungkin belum saatnya, bunga-bungaku tumbuh dan kemudian mekar Mungkin belum saatnya, pohon-pohon hijauku berbuah dan menjadi manis serta se...
-
Terkadang, diri hanya butuh sembuh untuk hidup. Terkadang, tubuh perlu jatuh untuk kembali rapuh. Terkadang, jiwa butuh sepi untuk mampu me...
-
Tatkala hujan tak lagi menjamah bumi. Tatkala mentari menjadi kelabu untuk dikagumi. Begitu juga bulan yang tenggelam dan menjadi asing unt...