Selanjur Mentari tengah menerpa keabsahan nadiku.
Dalam dimensi waktu yang dungu.
yang tidak bertepi. yang bergerak maju.
Selajur mentari menerpa wajahku.
menyambut resah. Pilu. Juga bisu.
Selajur mentari kembali menerpaku.
memangku. melerai. dan menciumku.
Mataku terpejam.
Bibirku tersenyum.
Aku merasakannya. Aku mendengar desisnya.
Dan aku.... jauh di antara deretan waktu.
Dalam debu-debu yang melayu.
Yang mengikuti bisikan rindu.
Yang menyimpan hidup dalam kalbu.
Dia mendekatkan diri ke-telingaku.
Mendengungkan suara-suara syahdu.
kembali, aku tersenyum.
kurasakan,
Dia menyentuhku. Mencengkram dengan gemas jari-jariku.
memijitnya pelan. Dan sesekali mencubitnya.
Aku mendesis, sembari tersenyum.
Nanun, ketika ku-buka kelopakku.
Kupandang dengan jelas selajur mentari itu.
Tak kutemukan apa-apa.
Kutatap sela-sela jemariku. kusentuh pipiku. kutelanjangi sekelilingku,
Tak kutemukan apa-apa. Kecuali selajur mentari yang mulai pudar.
23, Juli 2025
Gresik
