Jumat, 26 September 2025

26 September 2025

 Tatkala hujan tak lagi menjamah bumi. Tatkala mentari menjadi kelabu untuk dikagumi. Begitu juga bulan yang tenggelam dan menjadi asing untuk malam yang lirih. 

Sejak kapan? Sejak aku lupa bahwa waktu punya  caranya sendiri untuk bekerja.

Sejak kapan? Sejak aku lupa bahwa yakin punya nafasnya yang pasti untuk ia berjalan.

Sejak kapan? Sejak aku lupa bahwa mata memiliki keindahannya sendiri untuk dapat menjaga. 

Kemudian kapan aku lupa untuk menjadi pandai sebelum melangkah? Lalu kapan aku lupa  untuk tidak terbang sebelum sayapku siap untuk melawan udara. dan selanjutnya? kapan aku lupa untuk harus berhenti sebelum sampai pada harga nafsu yang fana?

Ding!

Ding!

Ding!

Lonceng nadiku berbunyi. desir darahku mengalir. Dentum-dentum jantungku berdalih, "Hei kembalilah! Jagalah dirimu di sana. Dan jangan pulang"

Lalu nafasku bertanya "Jika kau menyuruhku untuk tetap di sini kenapa kau memintaku kembali?"

Jantung pun tersenyum. Dentum-dentumnya semakin merdu. Dia bernyanyi, dengan keindahan melodi yang tidak dapat dibohongi. Dengan untaian larik yang begitu primadona untuk dimengerti. Dan dia bernyanyi, dengan bentuk lain yang tidak pernah dikenali.

"Daun-daun menjadi saksi bahwa ia mengering di musim dingin"

Nafasku masih tidak mengerti. Sang paru-paru semakin menyempit. kemudian dia berdalih "Aku percaya bahwa lagumu akan memiliki henti untuk menjadi indah. Dan aku pun percaya bahwa keelokan syairmu akan menua dan berubah warna seperti usia yang termakan zaman"

Jantung berdendang lagi tapi dengan syair yang sedih. Nafas pun menangis lalu ia tersenyum. Kemudian jantung kembali berdentum-dentum, suaranya semakin meninggi, kecepatannya berlari, hingga pada satu tempat ia memilih henti. Nadanya pun berhenti, musiknya bisu, orkestranya berakhir, dan syair indahnya gugur bersama desir darah yang terus mengalir.

Nafas pun melihat ke bawah, ia terkejut, sekaligus takjub. Dan kemudian, ia melihat jantung melompat terjun ke dalamnya. Di cairan bening yang berwarna merah. Dia tenggelam di kilat-kilat emas yang meronta-ronta, Lalu ia terbakar oleh pusaran cahaya  yang muncul di antara serambi organnya. Dia tersenyum. Kemudian tiada.

Nafas pun menjadi bingung, Ia mundur ke belakang, lalu mengintip lagi ke jurang lautan merah. Jemari langkahnya menjadi pasti. Matanya menatap lama ke dalam aliran itu. Tak dilihatnya lagi jantung yang menyuruhnya untuk tidak kembali. Tak didengarnya lagi sayup musik yang mengalahkan kemerduan takdir. Dan tak lagi pun ia lihat tubuh kecil yang begitu banyak memiliki arti. 

Sejenak ia teringat oleh ucapannya sendiri jika ia percaya bahwa lagu Sang Jantung pasti akan memiliki henti untuk menjadi indah dan keelokan syairnya akan menua sekaligus berubah warna seperti usia yang termakan zaman, tetapi bukan ini yang ia maksudkan. Bukan dengan Sang Jantung tiada kemudian lagunya tak lagi terdengar. Jikalau pun lagu Sang Jantung menjadi sumbang, Nafas tetap bersedia untuk mendengarnya. Asalkan Jantung tetap ada, di sini, bersamanya,  tetapi...

Dan beberapa menit setelahnya, tenggorokannya mulai mengering, air matanya tidak mau mengeluarkan diri. Dia menutup mulutnya  sendiri. Nafas pun mulai tidak teratur. Ia menyadari bahwa semesta mengabulkan apa yang ia aksarakan, bukan maksud yang ia inginkan. Lalu dia pun mulai menangis dengan mata yang kering. ia sesenggukan dengan liur yang sedikit menjadi manis. Dan ia tidak sedikit pun mengerti bawa cerita punya caranya sendiri untuk terukir. 

Ditatapnya lamat-lamat cairan merah itu. Dilihatnya rapat-rapat kemolekan emasnya. Kemudian dengan yakin ia melepas bungkaman dari mulutnya. Kakinya mengambil aba-aba dan...

Jump! Ia melompat untuk menyusul Jantung, kembali pulang.


26 September 2025

       Surabaya   




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARNING !!!

Lengkara berarti mustahil atau tidak boleh terjadi. Seperti judulnya, buku ini menceritakan seseorang yang  bercerita mengenai kekasihnya. B...