Surabaya
Senin, 29 September 2025
29 September 2025
Surabaya
Sabtu, 27 September 2025
27 September 2025
Hari ini, ketika detik berdenting dengan caranya, aku tidak memiliki cerita untuk kuutarakan. Aku tidak memiliki kisah untuk ku genggam di antara untaian kata. Aku tidak memiliki apa-apa untuk kubicarakan. Namun naluriku memiliki banyak sekali suara untuk ia mau diungkapkan. Dan kini, aku mengungkapkannya.
Selamat datang,
Di cerita yang tidak memiliki ujung.
Selamat datang,
Di titik yang tidak memiliki temu.
Dan, Selamat datang;
Di tempat yang hampa oleh ruang dan waktu.
Jauh aku berjalan, tak kutemui kisah apa pun kecuali keindahan yang jemu. Yang tidak berlarik. Yang tidak bersenandung. Dan yang tidak terjamah oleh waktu atau bahkan ceritaku. Tatkala jiwaku merenung oleh hafsah rasa yang tidak bernama, aku merindukan logika. Tatkala rinduku menjadi patah oleh hujan yang tidak sekalipun memberi gembira, maka aku lupa di manakah bumi yang sekarang aku pijak. Kemudian jemariku lelah untuk menjadi diam, maka ia menari di atas abjad-abjad takdir yang telah tertulis.
Banyak sekali hampa-hampa yang datang di antara sendu yang menjadi dukana. Banyak sekali amerta-amerta yang datang hanya untuk menutupi ke-mendung-an awan. Ditatapnya lamat-lamat cerita itu. Lalu ia merenung, dan ia menjadi bisu.
Dia duduk diam, menjadi kelabu, Sebagaimana warna putih yang ternoda oleh debu. Ia kecil, tidak berwujud tetapi jika tidak dibersihkan maka ia pun perlahan membentuk warna mendung. Sebagaimana hati Sang Prabu yang kini duduk, ia terlalu keras untuk menjadi manusia, namun sayangnya ia terlalu sukar untuk menolak rasa ketika ia menjadi Baginda.
Kehormatan menjadi penjara mewah yang datang tanpa ia undang, kemudian menjadi batu yang paling tidak ingin ia kenakan ketika berdiri di atas tahta. Sang Prabu hanya ingin menjadi manusia biasa, yang dapat menjadi lembut dan durhaka. Digayuhnya aliran air yang berbicara dengan telapak tangannya. Kemudian ia mencuci wajah, membasuh segala warta dengan air mata hujan yang memberinya teduh di atas bumi yang mengikatnya. Tetes-tetes itu menjadi cerita sempurna yang terlukis di atas batu nisan. Kemudian ia kembali pulang bersama mahkota yang ia jepit di antara siku dan pinggangnya.
27 September 2025
Surabaya
Jumat, 26 September 2025
26 September 2025
Tatkala hujan tak lagi menjamah bumi. Tatkala mentari menjadi kelabu untuk dikagumi. Begitu juga bulan yang tenggelam dan menjadi asing untuk malam yang lirih.
Sejak kapan? Sejak aku lupa bahwa waktu punya caranya sendiri untuk bekerja.
Sejak kapan? Sejak aku lupa bahwa yakin punya nafasnya yang pasti untuk ia berjalan.
Sejak kapan? Sejak aku lupa bahwa mata memiliki keindahannya sendiri untuk dapat menjaga.
Kemudian kapan aku lupa untuk menjadi pandai sebelum melangkah? Lalu kapan aku lupa untuk tidak terbang sebelum sayapku siap untuk melawan udara. dan selanjutnya? kapan aku lupa untuk harus berhenti sebelum sampai pada harga nafsu yang fana?
Ding!
Ding!
Ding!
Lonceng nadiku berbunyi. desir darahku mengalir. Dentum-dentum jantungku berdalih, "Hei kembalilah! Jagalah dirimu di sana. Dan jangan pulang"
Lalu nafasku bertanya "Jika kau menyuruhku untuk tetap di sini kenapa kau memintaku kembali?"
Jantung pun tersenyum. Dentum-dentumnya semakin merdu. Dia bernyanyi, dengan keindahan melodi yang tidak dapat dibohongi. Dengan untaian larik yang begitu primadona untuk dimengerti. Dan dia bernyanyi, dengan bentuk lain yang tidak pernah dikenali.
"Daun-daun menjadi saksi bahwa ia mengering di musim dingin"
Nafasku masih tidak mengerti. Sang paru-paru semakin menyempit. kemudian dia berdalih "Aku percaya bahwa lagumu akan memiliki henti untuk menjadi indah. Dan aku pun percaya bahwa keelokan syairmu akan menua dan berubah warna seperti usia yang termakan zaman"
Jantung berdendang lagi tapi dengan syair yang sedih. Nafas pun menangis lalu ia tersenyum. Kemudian jantung kembali berdentum-dentum, suaranya semakin meninggi, kecepatannya berlari, hingga pada satu tempat ia memilih henti. Nadanya pun berhenti, musiknya bisu, orkestranya berakhir, dan syair indahnya gugur bersama desir darah yang terus mengalir.
Nafas pun melihat ke bawah, ia terkejut, sekaligus takjub. Dan kemudian, ia melihat jantung melompat terjun ke dalamnya. Di cairan bening yang berwarna merah. Dia tenggelam di kilat-kilat emas yang meronta-ronta, Lalu ia terbakar oleh pusaran cahaya yang muncul di antara serambi organnya. Dia tersenyum. Kemudian tiada.
Nafas pun menjadi bingung, Ia mundur ke belakang, lalu mengintip lagi ke jurang lautan merah. Jemari langkahnya menjadi pasti. Matanya menatap lama ke dalam aliran itu. Tak dilihatnya lagi jantung yang menyuruhnya untuk tidak kembali. Tak didengarnya lagi sayup musik yang mengalahkan kemerduan takdir. Dan tak lagi pun ia lihat tubuh kecil yang begitu banyak memiliki arti.
Sejenak ia teringat oleh ucapannya sendiri jika ia percaya bahwa lagu Sang Jantung pasti akan memiliki henti untuk menjadi indah dan keelokan syairnya akan menua sekaligus berubah warna seperti usia yang termakan zaman, tetapi bukan ini yang ia maksudkan. Bukan dengan Sang Jantung tiada kemudian lagunya tak lagi terdengar. Jikalau pun lagu Sang Jantung menjadi sumbang, Nafas tetap bersedia untuk mendengarnya. Asalkan Jantung tetap ada, di sini, bersamanya, tetapi...
Dan beberapa menit setelahnya, tenggorokannya mulai mengering, air matanya tidak mau mengeluarkan diri. Dia menutup mulutnya sendiri. Nafas pun mulai tidak teratur. Ia menyadari bahwa semesta mengabulkan apa yang ia aksarakan, bukan maksud yang ia inginkan. Lalu dia pun mulai menangis dengan mata yang kering. ia sesenggukan dengan liur yang sedikit menjadi manis. Dan ia tidak sedikit pun mengerti bawa cerita punya caranya sendiri untuk terukir.
Ditatapnya lamat-lamat cairan merah itu. Dilihatnya rapat-rapat kemolekan emasnya. Kemudian dengan yakin ia melepas bungkaman dari mulutnya. Kakinya mengambil aba-aba dan...
Jump! Ia melompat untuk menyusul Jantung, kembali pulang.
26 September 2025
Rabu, 24 September 2025
25 September 2025
"Aku tidak suka ketika dirimu berlagak tidak mengetahui apa-apa. Kenapa kau membohongiku?" ujar sang putri menyibak gaunnya.
"Kapan? aku benar-benar tak paham" Elak sang pangeran masih dengan membawa pedang. Darah segar mengalir dari pucuk kilat pedang yang ia genggam. Tangannya beralih menyimpan pedang itu. Kakinya melangkah, masih dengan peluh. Ia mendekat pada anak raja yang telah menjarah kebatinannya.
"Apakah aku menyakitimu, hmm..?" , dipegangnya pipi sang tuan putri. Kepala gadis itu menyamping, bau anyir darah menusuk-nusuk hidungnya. Mata beningnya tak sekalipun ingin menatap lelaki yang baru kemarin ingin membunuhnya.
"Kenapa kau membawaku pergi? Pedangku belum mandi darah!!"
"Kemudian engkau pun menyelinap ke dalam pasukanku untuk membunuh ayahmu", lanjut sang pangeran.
24 September 2025
Aku mulai mencintaimu hingga aku tidak mengerti sejak kapan aku berani melupakan waktu. Kala bulanmu tengah meredup. Kala mataharimu tengah membisu. Dan kala bintang-bintangmu merajuk kepadaku. Saat itu. Saat di mana tepat ketika kita bertemu. Engkau tertawa, dan aku diam. Kemudian aku bersuara dan kembali engkau tertawa.
Sudah lama, semenjak aku mengubur diri dalam harap yang gamang. Sudah lama, semenjak aku tidak berani mengambil pena di antara rak-rak cerita. Dan sudah lama, semenjak hatiku menua oleh harap hidup yang tak lagi menjelma.
Tahukah engkau? tatkala denting-denting waktu memanggilku, yang kudengar hanyalah namamu. Dan semenjak saat itu aku lupa, bahwa cerita itu tidaklah ada.
Tahukah engkau, tatkala derum nadiku meronta-ronta, yang kurasakan hanyalah sentuhan tanganmu. Dan sejak saat itu aku lupa, bahwa engkau hanyalah fana.
Tahukah engkau, tatkala mereka memanggil dan menyeret tubuhku, yang kusadari hanya satu. Kembalinya semestamu bersamaku. Kemudian aku tersadar. Dan sejak saat itu aku lupa, bahwa engkau hanyalah kepulan uap-uap rindu yang tidak memiliki ujung untuk diberi tentu.
Lalu, ke mana aku harus membawanya?
Ke mana lagi aku harus menggenggamnya?
Dan ke mana lagi aku harus menyokongnya?
Dikala dirimu saja sudah tiada, maka untuk apa aku terus bertanya?
- 24 September 2025 -
Surabaya
Selasa, 23 September 2025
12 September 2025
Di antara nama asa yang menjulang, awan-awan tetap berarak dengan diam menampilkan kegigihannya. Tahukah engkau apa itu yang dinamakan "Hidup dalam doa-doa?" Mungkin saja kata- kata dalam tulisan ini tidak bernama dan tidak berkesinambungan, dan seperti apa yang sudah sejauh ini aku sadari,
WARNING !!!
Lengkara berarti mustahil atau tidak boleh terjadi. Seperti judulnya, buku ini menceritakan seseorang yang bercerita mengenai kekasihnya. B...
-
Mungkin belum saatnya, bunga-bungaku tumbuh dan kemudian mekar Mungkin belum saatnya, pohon-pohon hijauku berbuah dan menjadi manis serta se...
-
Terkadang, diri hanya butuh sembuh untuk hidup. Terkadang, tubuh perlu jatuh untuk kembali rapuh. Terkadang, jiwa butuh sepi untuk mampu me...
-
Tatkala hujan tak lagi menjamah bumi. Tatkala mentari menjadi kelabu untuk dikagumi. Begitu juga bulan yang tenggelam dan menjadi asing unt...