Tatkala mentari memberiku waktu untuk bersemi,
dalam semaian dirinya,
dalam buaian cahayanya,
dan dalam kemilau kegagahannya.
Tatkala laut memberiku waktu untuk bertemu,
memberiku waktu untuk mulai merindu,
memberi waktu untuk tak lagi datang dalam bisu.
Tatkala bentala memberiku waktu untuk bergelimang,
menari-nari,
berteriak,
memanggil namanya.
Wahai diriku, kemarilah! Duduklah sejenak, nikmati keindahanmu, nikmati ketidakpuasanmu. Sembunyikan rasa lelahmu, sembunyikan rasa syukurmu.
Duduklah tanpa berkesudahan. Istirahatlah tanpa berkelana. Matikan sejenak dirimu untuk berlogika. Hidupkan kembali hafsah-hafsahmu. Hidupkan kembali jiwanya yang sudah kau kubur. Berikan ia waktu untuk hidup, berikan ia jiwa untuk kembali bernaung.
Duduklah! Istirahatlah! Sejenak saja, tidak perlu bercerita, tidak perlu berlogika. Jikalau kau meminta bisu, maka tak apa! aku akan tetap mendengarkanmu. Biarpun engkau meminta telinga untuk menulikan dirinya, maka tak apa! Aku akan tetap menyanjungmu dengan ceria. Dan biarpun engkau meminta untuk tidak kulakukan keduanya, maka tak apa! Aku akan tetap di sini, meski tidak dengan diriku, tapi dengan jiwaku. Meski tidak dengan jantung dan hatimu, aku akan tetap menunggu disini bersamamu, dalam bayangmu dan selama kau hidup, aku akan tetap bersamamu meski diriku menjadi hitam hanya karena mencintaimu.
Duduklah! Beristirahatlah! diam pun tak apa! Tanpa kasih pun tak apa! dengan cerita pun aku tidak memintanya. Aku hanya ingin kau duduk, bersamaku, beristirahat sejenak, lalu berjalan pelan, bergandengan, dan kembali mencoba butala untuk meminta keajaiban.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar