Di antara nama asa yang menjulang, awan-awan tetap berarak dengan diam menampilkan kegigihannya. Tahukah engkau apa itu yang dinamakan "Hidup dalam doa-doa?" Mungkin saja kata- kata dalam tulisan ini tidak bernama dan tidak berkesinambungan, dan seperti apa yang sudah sejauh ini aku sadari,
"Jika pelukis merefleksikan perasaannya melalui warna, maka penulis merefleksikan perasaanya melalui aksara"
Dan kini aku tidak mengerti akan perasaanku sendiri. Andai saja aku tahu, mungkin aku tidak akan di sini. Andai saja aku mengerti, mungkin saja aku tidak akan berdiri dengan satu kaki. Dan jika saja, jika saja aku dapat melihatnya sebelum semua ini terjadi, mungkin sekarang aku tidak akan pernah menghirup polusi anarkis di antara dua gedung kembar yang haus akan klorofil.
Sepenggal kalimat yang kuberi substansi metamorfosis di paragraf pertama "Hidup dalam doa-doa?"
Aku mendengarnya tepat setelah hatiku patah oleh harapan-harapan usang yang tidak lagi memiliki benderang. Tatkala itu, aku sadar jika pengandaian adalah cara paling buruk yang lahir dalam diri anak Adam untuk ia menyerah dan merelakan tubuh pada kegagalan. Kemudian selembar-selembarku meraungkan egosentrismenya, lalu aku kembali gagal.
Kemudian aku pulang. Sehari setelahnya, aku kembali gagal.
Keesokannya aku mulai kembali lagi untuk pulang. Dan keesokan harinya aku kembali gagal. lagi, dan lagi.
Namun, sampai pada saat ini. Di antara rumah-rumah hijau yang hidup di harapan-harapan manusia yang meminta lahir. Dan di setiap langkah kaki yang terbata-bata untuk membaca takdir. Aku masih mencoba menemukan diriku. Menemukan namaku. Menemukan mentari dan bintang-bintangku. Hingga pada suatu hari nanti egosentrismeku tidak lagi berdalih,
"Kenapa aku disini?"
12, September 2025
Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar