Aku mulai mencintaimu hingga aku tidak mengerti sejak kapan aku berani melupakan waktu. Kala bulanmu tengah meredup. Kala mataharimu tengah membisu. Dan kala bintang-bintangmu merajuk kepadaku. Saat itu. Saat di mana tepat ketika kita bertemu. Engkau tertawa, dan aku diam. Kemudian aku bersuara dan kembali engkau tertawa.
Sudah lama, semenjak aku mengubur diri dalam harap yang gamang. Sudah lama, semenjak aku tidak berani mengambil pena di antara rak-rak cerita. Dan sudah lama, semenjak hatiku menua oleh harap hidup yang tak lagi menjelma.
Tahukah engkau? tatkala denting-denting waktu memanggilku, yang kudengar hanyalah namamu. Dan semenjak saat itu aku lupa, bahwa cerita itu tidaklah ada.
Tahukah engkau, tatkala derum nadiku meronta-ronta, yang kurasakan hanyalah sentuhan tanganmu. Dan sejak saat itu aku lupa, bahwa engkau hanyalah fana.
Tahukah engkau, tatkala mereka memanggil dan menyeret tubuhku, yang kusadari hanya satu. Kembalinya semestamu bersamaku. Kemudian aku tersadar. Dan sejak saat itu aku lupa, bahwa engkau hanyalah kepulan uap-uap rindu yang tidak memiliki ujung untuk diberi tentu.
Lalu, ke mana aku harus membawanya?
Ke mana lagi aku harus menggenggamnya?
Dan ke mana lagi aku harus menyokongnya?
Dikala dirimu saja sudah tiada, maka untuk apa aku terus bertanya?
- 24 September 2025 -
Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar