Rabu, 24 September 2025

25 September 2025

Saat itu, ketika matahari menjadi kelabu karena awan yang menutupinya berlagak ingin memberi tahu sesuatu. Awan-awan itu, mereka ingin bercakap mengenai warta yang tidak terbendung. Matahari tak lagi mampu melihat, mendengar, atau bahkan mengintip dari balik dinding yang telah dibangun kokoh menghalangi. 

"Aku tidak suka ketika dirimu berlagak tidak mengetahui apa-apa. Kenapa kau membohongiku?" ujar sang putri menyibak gaunnya.

"Kapan? aku benar-benar tak paham" Elak sang pangeran masih dengan membawa pedang. Darah segar mengalir dari pucuk kilat pedang yang ia genggam. Tangannya beralih menyimpan pedang itu. Kakinya melangkah, masih dengan peluh. Ia mendekat pada anak raja yang telah menjarah kebatinannya. 

"Apakah aku menyakitimu, hmm..?" , dipegangnya pipi sang tuan putri. Kepala gadis itu menyamping, bau anyir darah menusuk-nusuk hidungnya. Mata beningnya tak sekalipun ingin menatap lelaki yang baru kemarin ingin membunuhnya. 

"Kenapa kau membawaku pergi? Pedangku belum mandi darah!!"

"Dia ayahmu tuan putri. Dia-"

"JANGAN MEMAANGGILKU TUAN PUTRI!!", tangan sang pangeran terhempas. Teriakan wanita bergaun anggun itu terpantul oleh batang-batang pohon pinus yang diam mendengar perbincangan mereka.

Tubuhnya melepaskan diri dari pelukan sang pangeran. Dia menjauh. Gaun lebarnya meyapu daun-daun kering dan ilalang. Langkahnya terhenti di dahan yang jatuh. Jiwanya merebah, menatap hutan kosong yang menjadi saksi bisu awal pertemuan dan mungkin juga menjadi bagian akhir dari kisah mereka. gadis itu melepas sepatu hitam kemudian menggesek-gesekkan telapak kakinya pada kerikil yang mendingin oleh udara. Dia mengukir kegamangan hatinya pada tanah kering yang memandangnya.

"Kerajaanmu adalah musuh kerajaanku. Ayahmu adalah musuh dari ayahku. Rajamulah yang mengibarkan bendera lebih dulu kemudian rajaku hanya dengan senang hati menerimanya. Entah kau atau aku, kita akan sama-sama kalah. Dan karena itu kau menyelinap dalam pasukan kerajaanku untuk membunuh ayahmu"

"Kemudian engkau pun menyelinap ke dalam pasukanku untuk membunuh ayahmu", lanjut sang pangeran.

"Itu tidak valid" Elak sang putri.

"Tapi benar"

"Asumsiku juga benar kan?" Jawab sang putri tidak mau kalah.

Gendang telinganya hanya bergetar oleh udara. sang pangeran hanya diam menatapnya. Gadis itu menyipitkan mata.

srekk!

Sreek!

Sat! 

Mata bening itu terbelalak. Dia jantungnya berdebar. Hatinya iku meleleh bersama tubuhnya yang mengalirkan darah. Anehnya warna darah itu  tidak merah, tetapi biru kehijauan. kemudian ia memandang lelaki yang ia temui bertahun-tahun silam. ingatannya kembali ketika ia bermain pedang. Ketika ia tidak mengetahui kenapa api memiliki banyak warna, ketika ia jatuh di semak-semak kemudian tergigit ular, dan kemudian ia tertidur di hutan bersama bocah kecil yang dua tahun lebih tua darinya karena bisa Anaconda.

"Kau benar-benar menghinianatiku?"

"Bukan! Bukan aku! Tetapi rajamu?"

"Ayah?"

Lelaki itu datang dan mengelus kepalanya. Menyisir rambut hitam itu dengan pelan. "Beristirahatlah, Putri! Kau sudah lelah"

tak lama berselang awan-awan mulai turun. Mereka merobohkan tembok yang sudah dibangun. Kapas-kapas lembut itu membiarkan matahari melihat apa yang terjadi. Kemudian sang surya bersinar semakin liar. Dan pada akhirnya sang  pangeran pun menjadi raja di tempat di mana ia tidak dilahirkan di sana.



25 September 2025
Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WARNING !!!

Lengkara berarti mustahil atau tidak boleh terjadi. Seperti judulnya, buku ini menceritakan seseorang yang  bercerita mengenai kekasihnya. B...