Hari ini, ketika detik berdenting dengan caranya, aku tidak memiliki cerita untuk kuutarakan. Aku tidak memiliki kisah untuk ku genggam di antara untaian kata. Aku tidak memiliki apa-apa untuk kubicarakan. Namun naluriku memiliki banyak sekali suara untuk ia mau diungkapkan. Dan kini, aku mengungkapkannya.
Selamat datang,
Di cerita yang tidak memiliki ujung.
Selamat datang,
Di titik yang tidak memiliki temu.
Dan, Selamat datang;
Di tempat yang hampa oleh ruang dan waktu.
Jauh aku berjalan, tak kutemui kisah apa pun kecuali keindahan yang jemu. Yang tidak berlarik. Yang tidak bersenandung. Dan yang tidak terjamah oleh waktu atau bahkan ceritaku. Tatkala jiwaku merenung oleh hafsah rasa yang tidak bernama, aku merindukan logika. Tatkala rinduku menjadi patah oleh hujan yang tidak sekalipun memberi gembira, maka aku lupa di manakah bumi yang sekarang aku pijak. Kemudian jemariku lelah untuk menjadi diam, maka ia menari di atas abjad-abjad takdir yang telah tertulis.
Banyak sekali hampa-hampa yang datang di antara sendu yang menjadi dukana. Banyak sekali amerta-amerta yang datang hanya untuk menutupi ke-mendung-an awan. Ditatapnya lamat-lamat cerita itu. Lalu ia merenung, dan ia menjadi bisu.
Dia duduk diam, menjadi kelabu, Sebagaimana warna putih yang ternoda oleh debu. Ia kecil, tidak berwujud tetapi jika tidak dibersihkan maka ia pun perlahan membentuk warna mendung. Sebagaimana hati Sang Prabu yang kini duduk, ia terlalu keras untuk menjadi manusia, namun sayangnya ia terlalu sukar untuk menolak rasa ketika ia menjadi Baginda.
Kehormatan menjadi penjara mewah yang datang tanpa ia undang, kemudian menjadi batu yang paling tidak ingin ia kenakan ketika berdiri di atas tahta. Sang Prabu hanya ingin menjadi manusia biasa, yang dapat menjadi lembut dan durhaka. Digayuhnya aliran air yang berbicara dengan telapak tangannya. Kemudian ia mencuci wajah, membasuh segala warta dengan air mata hujan yang memberinya teduh di atas bumi yang mengikatnya. Tetes-tetes itu menjadi cerita sempurna yang terlukis di atas batu nisan. Kemudian ia kembali pulang bersama mahkota yang ia jepit di antara siku dan pinggangnya.
27 September 2025
Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar