Tatkala waktu masih berembun. Tatkala fajar masih kelabu. Aku bertanya, "Bagaimana cara mereka memiliki sayap??" Lalu aku menjawab, "Mungkin dengan usaha dan beberapa kata doa!"
kemudian aku kembali bertanya, "Lalu bagaimana cara mereka terbang???" Dan aku menjawab, "Mungkin dengan beberapa kali percobaan, sesekali jatuh, dan banyak waktu gagal disusul dengan luka-luka?"
"Tetapi bukankah mereka bahagia?? Ya..! Mereka bahagia. Dan justru terkadang sangat bahagia"
Aku bertanya-tanya, "Sangat bahagia?? Bahagia yang seperti apa?? Kapan bahagia itu datang?"
"Mungkin ketika mereka melihat darah yang merambat keluar dari luka karena jatuh. Atau mungkin karena mereka berhasil menghapus mata yang menangis karena gagal berhasil. Atau jangan-jangan mereka bahagia karena berani mencoba???!"
Kepalaku berpikir, menari-nari, dan bergumam... "Hmmm mungkin benar, tapi sepertinya mereka bahagia karena mereka berani mencoba"
Sisi yang lainnya beradu dengan lebih gamblang..."Benarkah? Kenapa berani mencoba membuat mereka bahagia?? Bukankah mencoba tanpa takut gagal adalah kecerobohan?"
Dadaku menyempit. Duduk. Menarik nafas. Dan kembali berdiri "Mungkin dia takut gagal, tetapi kalau tidak dicoba tidak akan tahu dia akan gagal atau tidak. Dan daripada berkubang di lumpur ketakutan lebih baik membebaskan diri dengan terbang, bukankah dia memiliki sayap??!"
"Tetapi kan tidak semua yang memiliki sayap bisa terbang?!"
"Oleh karena itulah dia mencobanya, melatih sayap itu, membiarkan dia terluka, membiarkan dirinya sendiri jatuh, membiarkan darahnya mengalir, membiarkan matanya menangis. Karena dia memilih terbang, dia memilih bebas, dan dia memilih bahagia."
"Memilih bahagia?"
"Yap! Bahagia dalam sungai-sungai pencapaiannya. Bahagia dengan udara yang menabraknya ketika terbang. Bahagia dengan sayapnya yang bisa ia pertontonkan. Bahagia dengan keberhasilannya, dengan dirinya, dengan jiwanya."
Diriku masih mencoba tidak ingin memahami kata-katanya. "Bahagia???"
"Bahagia! Kau tidak tahu bahagia? Bahagia!!" Kuulangi kata itu dengan lebih keras. Hampir membentak.
Kedua bola mata itu melebar, "Kenapa kau membentakku?"
Aku terkekeh, lebih santai "Aku tidak membentak. Aku hanya menunjukkan bahwa hidup begitu tajam bagi mereka yang menyukai ketakutan"
"Maksudmu?"
Tanganku merangkul, "Sudahlah! jangan banyak berpikir. ayo kita melangkah, ayo terbang. Kau juga punya sayap kan? Ayo bahagia"
Dirinya yang bertanya baru saja tersadar. Kepalanya tertunduk, matanya silih berganti menatap sayap-sayap itu, "Sejak kapan aku punya sayap?! Kenapa aku tidak menyadarinya?!"
Tawaku meledak, menoel hidunya. "Karena kau terlalu sibuk mengagumi sayap orang lain"
Tangannya meraup muka, menyusul tawa yang lebih dulu jenaka, "Baiklah ayo kita terbang"
Dan dia mulai mengepak, berlari, berputar, jatuh, berdiri, mengepak-ngepak lagi. Bibirku menyungging, memandangi diri sendiri yang sedang berlatih. Dan tubuhku melebur, menjadi awan yang memberi naung, menjadi air yang mengalir, menjadi daun-daun yang bersemi. Aku menyatu, ke dalam diriku yang mencoba kala itu, yang berusaha keras, yang menyadari kekuatanku, yang percaya diri, yang kembali percaya pada takdir. Aku berani mencoba lagi, dengan cara yang lebih baik. Dengan sayap yang hampir terbang.
Kemudian angin seolah mendukungku, memberiku waktu. Dan benar, aku tidak lagi berpijak. Aku meninggi. Dan aku terbang. Aku terbang bersama dukana-dukanaku. Aku terbang bersama kesedihan-kesedihanku. Aku terbang bersama lumpur-lumpur itu. Aku terbang dengan diriku sendiri, dengan sayapku. Dan aku berteriak, "Aku terbang, aku berhasil!!!"
Mulai saat itulah. Semua awal menjadi arti. Semua hari tidak lagi sunyi. Dan takdir mulai menemukan caranya sendiri untuk berhasil ketika aku mencoba lagi.
09-02-2026
Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar