Entah sejak kapan, malam-malamku mulai menjadi ketakutan.
Entah sejak kapan, desah-desah nafasku menjadi tidak beraturan.
Dan entah sejak kapan, diriku menjadi tak sebegitu damai seperti sebelumnya.
Kemudian aku menemukan warta, bahwasanya engkau menjadikanku tiada di beberapa malam, di antara desahan nafas, dan di tiap-tiap bagian jiwa serta tubuh yang kupunya.
Ketika mentari mulai meredup, sejak saat itulah engkau membelenggu. Dan yah, aku menemukan jawabannya. Engkau datang ketika bulan menunjukkan dirinya. Engkau menjadi bintang di antara para bintang. Dan engkau benar-benar telah menjadi malam yang selalu dan selamanya aku rindukan.
Aku tahu. Engkau hilang ketika aku tidak sendirian. Dan engkau datang ketika aku terjebak dalam banyaknya abicara. Dalam beberapa kata engkau tiada. Dan dalam beberapa masa engkau ada. Dan terkadang di tiap-tiap kata beberapa, engkau muncul dengan begitu sempurna. Maka jikalau engkau membaca, bolehkan aku bertanya?
Kenapa engkau menjadi wangi ketika aku sudah tidak ingin lagi mendekati?
Kenapa engkau menjadi sunyi ketika pendengaranku tidak lagi menutup diri?
Kenapa ? Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau menjadi penjahat dalam naskahku? Kenapa kau tidak mengasihaniku ?
Tuan, aku mengemis padamu! Dengan banyak cawan-cawan anggur. Dengan dansa-dansa pilu. Dengan dukana-dukanaku. Dengan tubuhku. Dan dengan separuh harga diriku.
Kumohon, datanglah. Kepadaku. Bebaskanlah diriku. Setidaknya, jikalau engkau tidak ingin datang untuk kembali bersama, maka biarkan aku bebas. Biarkan jiwaku pulang. Biarkan diriku kembali ada. Biarkan aku kembali hidup.
Dan kumohon, bebaskan aku, Dari penjara keindahanmu.
03-02-2026
- Gresik -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar