Di anak dunia lain, aku menghampiri. Bertemu dengan banyak bumi, yang tidak henti-henti mengabdi. Di hamparan samudera itu mereka membiru sembari menangis, mencoba mendaki bukit yang jauh dari kata fantasi. Dalam imajiku aku merana sekaligus merayu, bagaimana bisa mereka memiliki kalbu? Lalu aku menengok ke samping, menghampiri waktu yang bergelayut dalam hampa-hampa takdir. Dia tersenyum memandangku, meraup wajahku, mentoel pipiku, lalu tersenyum terkikik-kikik. Tubuhku merinding, bergidik dengan suara lengking yang jauh dari bisikan sanubari.
Lalu aku berlanjut menjelajah, kutemukan dungkalan cair berwarna merah. Dia bukan darah tapi kata penduduk, dia tiada. Aku tidak memahami maksud kata tiada, karena dia bukan makhluk yang memiliki nyawa. lalu aku berpikir dengan banyak tanya, di mana dan kenapa. Kemudian mereka tersenyum. Tangannya mengelus kepalaku, membawa nadiku pergi jauh dalam belantara waktu. kemudian tiba-tiba aku merayu dan terbangun, lalu aku sadar. Bahwa itu adalah cerita penjelajahan dalam buku duhai Si Malakama.
20-04-2025
Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar