Tuan, aku mencium wangimu dikala pagi menyingsing. Aku mencium wangimu dikala fajar tengah memberi izin. Dan aku pun mencium wangimu kala bulan menjelajah hari.
Tuan, wangimu ambigu. Jenisnya sama, banyak kutemukan, di tubuh orang lain, tapi, kenapa? Kenapa hanya ketika wangi itu semerbak dari tubuhmu, dia menjadi istimewa. Mengapa baunya berbeda? Apa karena dia melekat padamu? Atau karena aku yang tertarik pada dirimu?
Tuan, aku mencarimu di sepanjang waktu, di sepanjang jalan, di sudut-sudut ruangan, di pojok-pojok tikungan, dan apakah kau tahu? Aku tidak menemukanmu di antara banyak waktu dan tempat yang kutempuh. Aku menemukanmu di mataku, dalam hatiku, dalam pikiranku, di dalam isi kepalaku.
Tuan, aku tidak ingin mengusirmu, karena aku tidak tahu. Aku tidak ingin menghardikmu, karena aku tidak tahu. Dan aku juga tidak ingin membencimu, karena aku tidak tahu. Aku hanya ingin berdamai denganmu dalam diriku, dengan jiwaku, dengan hatiku. Agar aku tahu bahwa mungkin mengagumi wangimu adalah salah satu cara Tuhan untuk menurunkan egoku.
25-04-2026
Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar