Selasa, 10 Februari 2026

10 Februari 2026

 Baru kali ini aku sadar, ternyata menjadi indah tak sesulit itu. Ternyata menjadi yang disayangi tidak serumit itu. Aku memiliki diriku sendiri untuk bercerita, dan kadang menangis, dan kadang tertawa. 

Baru kali ini aku merasa memiliki, baru kali ini aku merasa diterima, dan baru saja, selama berabad-abad aku merasa terlahir menjadi manusia biasa. Yang dapat berkata tidak, yang dapat menolak, yang dapat mengabdi, yang dapat tersenyum, yang dapat disayangi, dan yang memiliki kasih.

Tetapi aku takut, mungkin saja. ya! dan semoga tidak. Maksudku, semoga tuhan mengabulkan doa-doaku sebagaimana Ia memberiku banyak cerita yang membuatku selalu terlahir menjadi orang yang menerima peristiwa.


10-02-2026

Surabaya

Senin, 09 Februari 2026

9 Februari 2026

Tatkala waktu masih berembun. Tatkala fajar masih kelabu. Aku bertanya, "Bagaimana cara mereka memiliki sayap??" Lalu aku menjawab, "Mungkin dengan usaha dan beberapa kata doa!"

kemudian aku kembali bertanya, "Lalu bagaimana cara mereka terbang???" Dan aku menjawab, "Mungkin dengan beberapa kali percobaan, sesekali jatuh, dan banyak waktu gagal disusul dengan luka-luka?"

"Tetapi bukankah mereka bahagia?? Ya..! Mereka bahagia. Dan justru terkadang sangat bahagia"

Aku bertanya-tanya, "Sangat bahagia?? Bahagia yang seperti apa?? Kapan bahagia itu datang?"

"Mungkin ketika mereka melihat darah yang merambat keluar dari luka karena jatuh. Atau mungkin karena mereka berhasil menghapus mata yang menangis karena gagal berhasil. Atau jangan-jangan mereka bahagia karena berani mencoba???!"

Kepalaku berpikir, menari-nari, dan bergumam... "Hmmm mungkin benar, tapi sepertinya mereka bahagia karena mereka berani mencoba"

Sisi yang lainnya beradu dengan lebih gamblang..."Benarkah? Kenapa berani mencoba membuat mereka  bahagia?? Bukankah mencoba tanpa takut gagal adalah kecerobohan?"

Dadaku menyempit. Duduk. Menarik nafas. Dan kembali berdiri "Mungkin dia takut gagal, tetapi kalau tidak dicoba tidak akan tahu dia akan gagal atau tidak. Dan daripada berkubang di lumpur ketakutan lebih baik membebaskan diri dengan terbang, bukankah dia memiliki sayap??!"

"Tetapi kan tidak semua yang memiliki sayap bisa terbang?!"

"Oleh karena itulah dia mencobanya, melatih sayap itu, membiarkan dia terluka, membiarkan dirinya sendiri jatuh, membiarkan darahnya mengalir, membiarkan matanya menangis. Karena dia memilih terbang, dia memilih bebas, dan dia memilih bahagia."

"Memilih bahagia?"

"Yap! Bahagia dalam sungai-sungai pencapaiannya. Bahagia dengan udara yang menabraknya ketika terbang. Bahagia dengan sayapnya yang bisa ia pertontonkan. Bahagia dengan keberhasilannya, dengan dirinya, dengan jiwanya."

Diriku masih mencoba tidak ingin memahami kata-katanya. "Bahagia???"

"Bahagia! Kau tidak tahu bahagia? Bahagia!!" Kuulangi kata itu dengan lebih keras. Hampir membentak. 

Kedua bola mata itu melebar, "Kenapa kau membentakku?"

Aku terkekeh, lebih santai "Aku tidak membentak. Aku hanya menunjukkan bahwa hidup begitu tajam bagi mereka yang menyukai ketakutan"

"Maksudmu?"

Tanganku merangkul, "Sudahlah! jangan banyak berpikir. ayo kita melangkah, ayo terbang. Kau juga punya sayap kan? Ayo bahagia"

Dirinya yang bertanya baru saja tersadar. Kepalanya tertunduk, matanya silih berganti menatap sayap-sayap itu, "Sejak kapan aku punya sayap?! Kenapa aku tidak menyadarinya?!"

Tawaku meledak, menoel hidunya. "Karena kau terlalu sibuk mengagumi sayap orang lain"

Tangannya meraup muka, menyusul tawa yang lebih dulu jenaka, "Baiklah ayo kita terbang"

Dan dia mulai mengepak, berlari, berputar, jatuh, berdiri, mengepak-ngepak lagi. Bibirku menyungging, memandangi diri sendiri yang sedang berlatih. Dan tubuhku melebur, menjadi awan yang memberi naung, menjadi air yang mengalir, menjadi daun-daun yang bersemi. Aku menyatu, ke dalam diriku yang mencoba kala itu, yang berusaha keras, yang menyadari  kekuatanku, yang percaya diri, yang kembali percaya pada takdir. Aku berani mencoba lagi, dengan cara yang lebih baik. Dengan sayap yang hampir terbang.

Kemudian angin seolah mendukungku, memberiku waktu. Dan benar, aku tidak lagi berpijak. Aku meninggi. Dan aku terbang. Aku terbang bersama dukana-dukanaku. Aku terbang bersama kesedihan-kesedihanku. Aku terbang bersama lumpur-lumpur itu. Aku terbang dengan diriku sendiri, dengan sayapku. Dan aku berteriak, "Aku terbang, aku berhasil!!!"

Mulai saat itulah. Semua awal menjadi arti. Semua hari tidak lagi sunyi. Dan takdir mulai menemukan caranya sendiri untuk berhasil ketika aku mencoba lagi.


09-02-2026

Surabaya

Senin, 02 Februari 2026

3 Februari 2026

Entah sejak kapan, malam-malamku mulai menjadi ketakutan.

Entah sejak kapan, desah-desah nafasku menjadi tidak beraturan.

Dan entah sejak kapan, diriku menjadi tak sebegitu damai seperti sebelumnya.

Kemudian aku menemukan warta, bahwasanya engkau menjadikanku tiada di beberapa malam, di antara desahan nafas, dan di tiap-tiap bagian jiwa serta tubuh yang kupunya.

Ketika mentari mulai meredup, sejak saat itulah engkau membelenggu. Dan yah, aku menemukan jawabannya. Engkau datang ketika bulan menunjukkan dirinya. Engkau menjadi bintang di antara para bintang. Dan engkau benar-benar telah menjadi malam yang selalu dan selamanya aku rindukan. 

Aku tahu. Engkau hilang ketika aku tidak sendirian. Dan engkau datang ketika aku terjebak dalam banyaknya abicara. Dalam beberapa kata engkau tiada. Dan dalam beberapa masa engkau ada. Dan terkadang di tiap-tiap kata beberapa, engkau muncul dengan begitu sempurna. Maka jikalau engkau membaca, bolehkan aku bertanya?

Kenapa engkau menjadi wangi ketika aku sudah tidak ingin lagi mendekati?

Kenapa engkau menjadi sunyi ketika pendengaranku tidak lagi menutup diri?

Kenapa ? Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau menjadi penjahat dalam naskahku? Kenapa kau tidak mengasihaniku ?

Tuan, aku mengemis padamu! Dengan banyak cawan-cawan anggur. Dengan dansa-dansa pilu. Dengan dukana-dukanaku. Dengan tubuhku. Dan dengan separuh harga diriku. 

Kumohon, datanglah. Kepadaku. Bebaskanlah diriku. Setidaknya, jikalau engkau tidak ingin datang untuk kembali bersama, maka biarkan aku bebas. Biarkan jiwaku pulang. Biarkan diriku kembali ada. Biarkan aku kembali hidup. 

Dan kumohon, bebaskan aku, Dari penjara keindahanmu.


03-02-2026

- Gresik -

Kamis, 08 Januari 2026

8 Januari 2026

Tatkala itu, langit berangsur kelabu. Awan-awan mulai berkabung, disusul burung-burung hitam yang bernaung. Kemudian pohon-pohon pun mulai bersuara sendu, mengembalikan dahannya pada batang yang sudah lama membisu.

Aku. Tersenyum. Ragaku seolah menjadi rapuh, satu persatu, di dalam naung yang tak berujung. Untung, aku belum tiada. Untung aku masih mampu menngenali suara. Untung aku baik-baik saja. Tetapi sayangnya, aku baik-baik saja hanya dengan separuh cerita yang sebelumnya hilang, terkubur di antara puing-puing asa.

Gresik

09-01-2026

Minggu, 09 November 2025

-

 Tatkala  mentari memberiku waktu untuk bersemi, 

dalam semaian dirinya, 

dalam buaian cahayanya, 

dan dalam kemilau kegagahannya. 

Tatkala laut memberiku waktu untuk bertemu, 

memberiku waktu untuk mulai merindu, 

memberi waktu untuk tak lagi datang dalam bisu.

Tatkala bentala memberiku waktu untuk bergelimang,

menari-nari,

berteriak,

memanggil namanya.

Wahai diriku, kemarilah! Duduklah sejenak, nikmati keindahanmu, nikmati ketidakpuasanmu. Sembunyikan rasa lelahmu, sembunyikan rasa syukurmu. 

Duduklah tanpa berkesudahan. Istirahatlah tanpa berkelana. Matikan sejenak dirimu untuk berlogika. Hidupkan kembali hafsah-hafsahmu. Hidupkan kembali jiwanya yang sudah kau kubur. Berikan ia waktu untuk hidup, berikan ia jiwa untuk kembali bernaung.

Duduklah! Istirahatlah! Sejenak saja, tidak perlu bercerita, tidak perlu berlogika. Jikalau kau meminta bisu, maka tak apa! aku akan tetap mendengarkanmu. Biarpun engkau meminta telinga untuk menulikan dirinya, maka tak apa! Aku akan tetap menyanjungmu dengan ceria. Dan biarpun engkau meminta untuk tidak kulakukan keduanya, maka tak apa! Aku akan tetap  di sini, meski tidak dengan diriku, tapi dengan jiwaku. Meski tidak dengan jantung dan hatimu, aku akan tetap menunggu disini bersamamu, dalam bayangmu dan selama kau hidup, aku akan tetap bersamamu meski diriku menjadi hitam hanya karena mencintaimu.

Duduklah! Beristirahatlah! diam pun tak apa! Tanpa kasih pun tak apa! dengan cerita pun aku tidak memintanya. Aku hanya ingin kau duduk, bersamaku, beristirahat sejenak, lalu berjalan pelan, bergandengan, dan kembali mencoba butala untuk meminta keajaiban.

Sabtu, 18 Oktober 2025

18 Oktober 2025

Terkadang, diri hanya butuh sembuh untuk hidup. 

Terkadang, tubuh perlu jatuh untuk kembali rapuh.

Terkadang, jiwa butuh sepi untuk mampu merenung, kenapa sampai saat ini tubuh masih memberi izin untuk tetap mengabdi.

Diantara anak-anak senja. Di dalam pelukan kapas-kapas awan. Di jarak antar bintang-bintang. Di sekitaran induk-induk sungai. Dan di tiap pohon-pohon rindang, aku menemukan kejernihan. Aku menemukan jawaban. Aku menemukan kesadaran.

Kenapa diri harus sembuh.

Kenapa tubuh harus jatuh.

Kenapa tubuh butuh rapuh.

Kenapa jiwa meminta sepi.

Dan kenapa ia masih memberi izin untuk tetap mengabdi.

Ia siapa? Diriku.

Mengabdi pada siapa? 

Pada gunung-gunung yang menjaga bumi. Pada langit yang meneduhkan naluri. Pada kebiruan yang mendominasi. Pada jiwa-jiwa yang terkadang berjalan dan berlari. Kemudian pada nafas-nafas ambigu yang memberi arti.

Lalu? Untuk apa?

Untuk manusia mampu menyadari, bahwa jatuh dan rapuh adalah cara paling serius untuk tumbuh.



18 - 10 - 2025

Surabaya


Selasa, 07 Oktober 2025

8 Oktober 2025

 Sejak kapan?

Sejak diriku melihatmu berdansa di antara bintang yang bermata indah dan berbulu lentik.

Sejak kapan?

Sejak diriku bersanding denganmu kala kita melompat-lompat di atas hampanya ruang dan waktu.

Sejak kapan?

Sejak diriku bertamu ke rumahmu kala dikau merentangkan tangan menyambutku.

kemudian, sejak kapan?

Sejak burung-burung tak lagi berkicau untuk menghiburku, kemudian dengan tiba-tiba suaramu menjadi nyanyian paling merdu yang berganti menghibur dukanaku.

Lalu? 

lalu apa?

Mau apa?

Mau mengambil bintangmu?

Mau apa?

Mau menerima sambutannya dan berdendang dalam rangkulannya?

Mau apa?

Mau menamainya sebagai kekasihmu?

lalu?

lalu apa?

Lalu engkau menggerutu sembari menghapus hujan yang menggenang di kedua ngarai matamu. Dan untuk selanjutnya, engkau layu bersama gugur waktu yang perlahan merontokkan kelopak-kelopak indahmu.

Ku ingatkan! Berhentilah!!

8 Oktober 2025

   Surabaya 

Selajur Mentari

Selanjur Mentari tengah menerpa keabsahan nadiku. Dalam dimensi waktu yang dungu. yang tidak bertepi. yang bergerak maju.          Selajur m...